Podcast di Indonesia, Poddium, dan Mengapa Kami Melakukan Ini

by | Aug 16, 2017 | Behind The Mic |

“Happiness [is] only real when shared.”

Into the Wild – Jon Krakauer

Di After Hours edisi After Thought, kami membicarakan tentang podcast, apa itu podcast, dan bagaimana trennya di Indonesia. Pembicaraan itu diawali karena saya membaca artikel di Tirto—dan sejujurnya—saya merasa artikel itu tidak seimbang.

Di sana diceritakan tentang perkembangan podcast di Amerika yang pesat dengan pemasukan iklan sekian-sekian, dan sebagainya. Saya berani mengatakan kalau podcast itu universal selama kamu menguasai bahasa yang digunakan podcaster-nya. Podcast yang diproduksi dengan bahasa Inggris di Argot Studio New York, misalnya, akan didengarkan juga di negara berbahasa Inggris lainnya. Sesederhana itu. Bicara podcast, kita tidak lagi bicara tentang lokasi di mana podcast itu diproduksi. Sama seperti Game of Thrones yang hype-nya mendunia, podcast pun demikian.

Sayangnya, tidak semua orang Indonesia menguasai bahasa Inggris. Ini jadi alasan pertama mengapa podcast tidak berkembang di Indonesia. Yang kedua, kalaupun mengerti bahasa Inggris, bisa jadi mereka tidak punya gadget yang memudahkan mereka mengakses podcast itu. Podcast dimulai dari iPod yang diproduksi Apple. Sebagai penikmat podcast sejak tahun 2014, walaupun saya punya iPhone di penghujung 2012, tetap saja akses itu belum ada karena akses podcast di iPhone beda dengan di MacBook. Gian pun punya cerita yang sama. Memang sekarang ini banyak platform untuk podcast. Tapi, tidak semuanya gratis. Soundcloud, misalnya, ada batasan besar file yang bisa diunggah. Untuk punya podcast berseri, kamu harus langganan Soundcloud berbayar agar punya ruang yang cukup untuk unggahannya. Acast, mensyaratkan 2.000 hits perpekan untuk bisa diunggah ke sana.

Unabridge Audio Book yang saya pinjam dari Fayetteville Public Library. Bentuknya seperti player yang siap dimainkan. Kamu tinggal menyiapkan headset dan baterai sendiri.

Punya hosting murah dengan blog gratis, ini sulit. Percayalah. Blog gratis punya batasan besar file yang bisa diunggah. Hosting pun tidak murah. Tapi ini relatif, sih. Saya kasih bayangan saja, deh, ya. Untuk hosting 8 GB, setahun kamu perlu menyiapkan uang sekitar 1,2 juta rupiah untuk sewanya. Ini tidak murah. Belum lagi alat, kemampuan teknis, dan sebagainya. Tapi ini jangan dijadikan sesuatu yang menyeramkan, ya. Ini semua bisa dilakukan, walaupun agak sulit.

Saya dan Gian pun membicarakan ini—walaupun sedari awal kami sudah beberapa kali mendiskusikan dan memperdebatkannya—sampai kami memutuskan untuk mempermudah ini semua. Semacam: Yaudah, kita buat platform aja sekalian. Kita jadi produser. Kita urus teknisnya. Kita urus semuanya. Daripada mengutuk gelapnya dunia podcast di Indonesia, lebih baik membuat platform yang dibuat benar-benar dari nol—ah, rasanya bukan nol lagi, tapi minus lima karena begitu banyak yang harus dipelajari dan dipersiapkan ulang. Kami perlu penulis naskah, desainer website, programmer, sound editor, podcaster, dan marketing. Ini sulit karena awalnya—bahkan sampai tulisan ini dibuat pun—semua itu masih dibagi dua antara saya dan Gian.

Jadi, kami memutuskan untuk membuat sesuatu, menunjukkan bagaimana caranya–melalui tutorial yang sedang kami siapkan–dan juga mengajak kalian semua untuk bermain bersama. Poddium buat kami adalah taman bermain, jadi … mari sini kita main bareng.

* * *